TENTANG KITA
Oleh: M. Zaidun Khadirin
KMF (Keluarga Mathali’ul Falah) merupakan wadah organisasi bagi alumnus Perguruan Islam Mathali’ul Falah—madrasah tertua di kabupaten pati, tepatnya berada di Pati bagian utara yaitu Desa kajen, kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, berdiri tahun 1912 M.—yang sedang menempuh pendidikan dalam berbagai jenjang di dalam negeri, seperti: Semarang, Yogyakarta, Jakarta, serta kota-kota lainnya di Indonesia, maupun di luar negeri seperti: Saudi arabia, Mesir, Maroko, Sudan, Syiria, Yaman, dan Libya.
Semenjak dekade 80-an, “bendera” KMF sudah berkibar di Timur-Tengah, khususnya di Saudi Arabia, yang waktu itu tampuk kepemimpinannya di pegang oleh Bapak H. Junaidi Halim Lc. Bersama teman-teman KMF lainnya, beliau telah melakukan pelbagai aktifitas kajian—selain mengirimkan sejumlah buku ilmiah dan keagamaan untuk melengkapi koleksi perpustakaan Perguruan Islam mathali’ul Falah tercinta.
Setelah melakukan tour singkat perihal KMF Saudi Arabia, kita akan menelusuri KMF yang berada di negeri Kinanah, negeri para nabi (sebutan popular untuk negeri Mesir) dengan mengajukan sejumlah pertanyaan, diantaranya: Bagaimanakah awal mula KMF Mesir? Apa saja aktifitasnya? Nah, di bawah ini adalah sekilas sejarah tentang KMF Mesir.
KMF Mesir sebenarnya sudah ada sejak awal tahun 90-an, akan tetapi situasi dan kondisi saat itulah yang tidak mendukung untuk mengibarkan “bendera” KMF di negeri para nabi ini, disebabkan oleh beberapa faktor pula, dan ini merupakan hal penting yang harus diperhatikan, direktur Perguruan Islam Mathali’ul Falah (DR. KH. MA. Sahal Mahfudz) saat melakukan kunjungan ke Negeri para nabi ini, menghimbau, ” agar para alumi yang sedang menempuh jenjang pendidikan di Mesir ini tidak membuat wadah organisasi.” Hal tersebut tentunya bukan merupakan intruksi yang tidak beralasan. Meski waktu itu beliau tidak mengemukakan berbagai alasan, akan tetapi para alumni Perguruan Islam Mathali’ul Falah yang berada di Mesir, berusaha menyimpulkan sejumlah faktor yang menyebabkan bapak KH. MA. Sahal Mahfudz menyampaikan intruksinya itu, diantaranya adalah bahwa pelarangan pendirian KMF Mesir dimungkinkan karena beberapa faktor dibawah ini :
1. Beliau memandang bahwa organisasi yang berada di Mesir, sudah terlalu banyak jumlahnya, sehingga beliau menyarankan agar para alumni tidak usah menambah jumlah organisai yang ada. Namun bukan berarti bahwa dengan demikian beliau melarang untuk berorganisasi, bahkan sebaliknya: beliau secara tegas menghimbau mereka untuk aktif di PCI-NU, yang waktu itu masih bernama KMNU (Kaum Muda Nahdlatul Ulama).
2. Bagi beliau, pembuatan atau pendirian organisasi (KMF) belum begitu krusial dan mendesak untuk saat itu.
3. Pembentukan organisasi dikhawatirkan akan terlalu menyita waktu, pikiran dan tenaga sehingga dimungkinkan dapat mengganggu konsentrasi belajar sebagai niatan pertama bagi para alumni.
Meski demikian, para alumni tidak putus semangat dalam melakukan aktifitas bersama yang bersifat intern; walaupun pada waktu itu alumnus hanya terdiri beberapa orang (tidak lebih dari 5 orang). Dengan tanpa embel-embel nama, para alumni melakukan diskusi intensif setiap seminggu sekali, dengan menggunakan bahasa Arab maupun Indonesia. Aktifitas tersebut berjalan sampai beberapa tahun lamanya tanpa mengalami hambatan yang berarti, bahkan sekitar tahun 1998, kelompok diskusi tanpa nama ini mendapatkan perhatian cukup lumayan dikalangan mahasiswa Indonesia di mesir (yang kemudian lebih terkenal dengan sebutan Masisir) karena diskusi almamater seperti itu adalah satu-satunya kelompok diskusi yang menggunakan bahasa Arab.
Namun, pasang-surut bagi perjalanan sebuah organisasi adalah suatu hal yang wajar; hal itu sering kita sebut dengan istilah “sunnatullah.” Begitu halnya yang di alami oleh kelompok diskusi tanpa nama ini: kelompok ini sekitar tahun 2003-2004 diterpa kemandegan. Sampai akhirnya pada tahun 2005, tepatnya bulan Februari, kelompok diskusi tanpa nama ini bangkit kembali setelah kurang lebih 2 tahun mengalami kelesuan ilmiah itu. Mereka mulai sadar bahwa kelompok ini mulai membutuhkan sebuah nama—meski tak harus dilengkapi dengan perangkat-perangkat organisasi seperti adanya ketua, sekretaris, bendahara, atau divisi-divisi lainnya sebagai atribut formalnya. Kebutuhan yang mendesak itu dilatarbelakangi oleh sejumlah faktor, antara lain:
1. Meningkatnya jumlah alumnus yang belajar di Mesir.
2. Pentingnya mempererat tali peraudaraan sesama alumni, terutama dalam bentuk organisasi.
Setelah menimbang dan mengkaji beberapa hal di atas, sebuah nama pun kemudian benar-benar dirasa perlu. Dengan dorongan semangat yang diberikan oleh Bpk. H. Ahmad Nadhif Lc., pada tanggal 25 Nopember 2005 M. KMF Mesir resmi didirikan. Akan tetapi perlu dicatat bahwa KMF ini tidak seperti organisasi-organisasi lain yang ada di Cairo; sejumlah organisasi-organisasi yang harus dikukuhkan oleh landasan hukum organisasi—atau sering kita sebut dengan AD/ART. Sehingga sampai saat ini, KMF Mesir belum mempunyai apa yang dinamakan dengan AD/ART. Jadi, saat ini, struktur KMF hanya membutuhkan seorang Koordinator saja—tanpa divisi-divisi. Namun hal itu tak menutup kemungkinan, bahwa dalam beberapa tahun mendatang seiring dengan berjalannya waktu, KMF akan membuat kelengkapan pengurus serta landasan kerja organisasi (AD/ART) sebagaimana organisasi yang lain.
Meski demikian, bukan berarti KMF Mesir hanyalah sebuah organisasi tanpa program. KMF Mesir mempunyai beberapa program, dan telah berjalan, antara lain: mengadakan diskusi ilmiah setiap pertengahan bulan, dengan cara bergilir yang telah disepakati lewat undian, diskusi berbahasa Arab yang dilaksanakan setiap awal bulan. Dan sebelum diskusi berbahasa Arab ini dimulai, terlebih dahulu di awali dengan bacaan manaqib dan tahlil yang dipimpin secara bergiliran pula. Selain program tersebut, KMF juga mengadakan sholat ghaib, pembacaan surat Yasîn, jika ada salah satu keluarga Mathali’ul Falah yang sakit atau meninggal dunia.
Demikian profil singkat KMF Mesir, semoga seiring dengan berjalannya waktu semakin harum namanya. amîn