Cinta Dan Sastra

Oleh M. Jirjiz

Kmf Mesir
Sebuah kata dengan arti yang amat dalam dan penuh misteri, bagi sebagian orang yang memujanya. Keberadaannya memberikan warna dalam sejarah peradaban dunia, yang bermula dari zaman Nabiyullah Adam AS dan Sayyidah Hawwa, hingga timbulnya legenda Kais dan Layla dalam legenda alfu laylah wa laylah -yang menghiasi jazirah arab-, Romeo dan Yuliet -yang menjadi patron dalam legenda cinta eropa dengan prasasti yang tertuang dalam party of valentine day- bahkan Rangga dan Cinta -yang telah merefleksikan kisahnya di belahan bumi nusantara- dalam garapan sensasionalnya film nan monumental.

Misteri yang terkandung didalamnya melelehkan naluri berfikirnya makhluk Tuhan yang paling mulia, mengalahkan logikanya ahli filsafat, bahkan kesempurnaan ahli kalam saat mendefinisikannya, hingga kearifan sang raja dalam bertitah yang menyiramkan kesejukan dalam setting sosial, demi terciptanya baldatun thayyibatun warabbun ghafûr.

Sebagian mereka beranggapan, bahwa cinta hanyalah sebuah simbol dalam perjalanan dunia, yang lain mengurainya dengan kata “dimana ada cinta di situ ada kehidupan” yang seakan eksistensinya merupakan sumber ekosistem alam, hingga terciptanya mawaddah wa rahmah nan menghiasi keluarga -dalam aspek spesifik- dan civil society -secara universal- dalam persepektif makro dengan nilai-nilai kosmopolity.

Dalam perkembangannya, nilai-nilai cinta telah terkontaminasi kemajuan sang zaman, egoisme antar individu dan golongan, bahkan terkadang terjadinya mis information and understanding dalam sanubari pelakunya yang selalu dibuai oleh kreasi-kreasinya nan inovatif, bahkan progresif.

Nilai cinta dalam sejarah selalu terukir sejalan dengan peradaban sastra dan kepiawaian sang pujangga dalam menguntai setiap katanya. Menjadi tabu untuk disimak dalam sebuah wacana, oleh refleksi nilai-nilai birahi yang tersirat dari romantika, yang menjadikan orang salah mendefinisikan -tentunya hal tersebut merupakan klaim sepihak menurut dogma sekterianisme yang mereka yakini-

Luka teramat dalam -dari kekonyolan sebuah refleksi- bagi dunia sastra -yang telah menemani perjalanan cinta menyusuri lebatnya belantara, menapaki terjalnya jurang diantara lembah dan perbukitan, bahkan mengarungi luasnya samudra nan membelah bengisnya badai dan gelombang- yang harus ia pikul, sebagai konsekwensi moral atas kesetiaannya. Sehingga sastra -bagi sebagian mereka- menjadi sesuatu yang tabu untuk diwacanakan kembali dalam perdaban, karena terbukti menodai khittah manusia yang telah tercipta lebih mulia dibanding makhluk lainnya, sekalian mandataris Tuhan yang berhak memegang tongkat kholifah di muka bumi.

Secara universal, terapungnya klaim tersebut membuahkan virus yang mematikan -assasination character- dalam dinamika khazanah keilmuan. Dinamika ilmu pengetahuan mengalami stagnant condition, karena adanya mis understanding yang menyelimuti kondisi sosial -tersirat dalam keluguan karakter- oleh mendidihnya ambisi dalam sebuah idealisme, yang belum tentu kebenarannya. Terkhusus lagi pada perkembangan kesusastraan, yang harus menanggung dampak dari kesalahan pemahaman dan kedangkalan.

Sangat ironi apabila sastra -sebagai salah satu khazanah keilmuan- harus menanggung derita dari kebiadaban sebagian kelompok yang mengedapankan nafsu dan birahi dengan menyatukan nilai-nilai keagungan sastra. Mestinya sikap apresiatif yang harus tertuang, karena nilai keagungannya -yang terprasasti dalam maha karya agung yaitu Al Qur’an Al Kariim- juga menjadi kontributor utama dalam sîrah an nabawiyyah. Keagungannya terbukti mampu melemahkan kesombongan setting sosial yang menjadi kebanggaan pada saat itu, bahkan sekelompok orang yang berani mendustakannya terkadang terbuai kerinduan untaian sastra yang tertuang didalamnya.

Satu yang penting diaktualisasikan -untuk menyikapi adanya mis information and understanding dalam komunitas- adalah meletakkan setiap disiplin keilmuan pada proporsinya masing-masing dan meluruskan pemahaman yang terlanjur membalut, hingga masing-masing dapat berjalan seirama dengan keberagaman nilai yang terkandung didalamnya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.